Pengalaman Wow di Belitung

Pulau Belitung saat ini menjadi salah satu primadona baru pariwisata di Indonesia. Jasa Andrea Hirata melalui novel-nevelnya telah banyak berjasa mengangkat popularitas pulau ini. Demikian juga nama Ahok yang selalu menjadi berita juga sedikit banyak membawa pengaruh positif untuk pariwisata pulau ini.

GzMinggu ini, saya berkesempatan untuk datang di Belitung. Kesan pertama yang muncul adalah bandara yang kecil banget. Terus karena tragedi asap nasional, ternyata juga berdampak di sini, pesawat saya muter2 setengah jam gak berani landing. Gara-gara ini mas Raihan sampai mabuk 2 kali. Kesan selanjutnya, mirip seperti pulau Bangka, pulau ini panas. Hehehehe.

Sebagai destinasi wisata memang Belitung sedang booming, tapi dari sisi keindahan alam saya belum menemukan spot menarik di sini. Kalau dibandingkan Bali masih jauh lah. Mungkin ini juga karenasaya belum ke Tanjung Tinggi sih. Tanjung Tinggi memang salah satu spot pantai paling menarik di pulau Belitung. Pantai yang unik dengan batu-batu besar dan bulat. Walaupun sebetulnya ini mirip seperti yang ada di Parai, Sungailiat, Bangka. Oke.. Tapi kesimpulan saya sampai hari ini pemandangannya biasa saja.

Tapi ada pengalaman yang secara khusus ingin saya catat mengenai makan malam saya di Belitung. Malam kedua saya makan di restoran seafood namanya GZ : Guangzhou. Tempatnya 100 meteran dari hotel BW. Masuk ke tempat makan ini, saya langsung disambut para pelayan yang akrab, yang senyumnya tidak dibuat karena SOP. Hehehe. Saya pesan makanan khas Belitung, Gangan. Terus cumi (apalah saya lupa namanya). Minum jeruk Kunci.

Ditengah ritual makan, mas Raihan, seperti biasa, rewel minta jus alpukat. Dan selanjutnya, adek Reza rewel gak mau digendok sambil duduk. Nahhhhhh… di saat itulah ada respon yang menarik dari mbak2 di sana. “Ibu adeknya mau saya gendong dulu, biar gak repot makannya.” Luar biasa……..

Belum cukup di situ, Ternyata tidak sekedar menggendong, tapi juga diajak bercanda tuh adek Reza. Sampai dia senyum-senyum. Inilah Wow moment yang dicari-cari orang.

Tidak hanya memenuhi kewajibannya tapi karyawan di situ memberikan perasaan dan suasana yang nyaman untuk pengunjung mereka.

Advertisements

Menentukan Level Kita

Kita adalah apa yang kita pikirkan..
Ketika kita telah menetapkan bahwa kita adalah orang dengan komitmen waktu yang ketat, maka secara mudah maupun tidak kita akan memaksa diri kita sendiri untuk selalu tepat waktu. Ketika kita telah menetapkan diri kita adalah pribadi dengan komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, maka kita akan memaksa untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, plus memberikan bumbu nilai tambah sesekali.

Ini pula yang saya lihat di Singapura, Dubai, Abu Dhabi, Seoul, Houston, Tulsa, atau San Antonio. Seakan racikan dasar masyarakatnya telah diprogram agar dapat berada pada standar hidup yang tinggi. Kalau kita lihat trotoar, sebagai contoh, disana trotoar dibuat rapi dan nyaman. Di Indonesia mungkin juga bisa ditemui trotoar seperti itu, seperti di Rasuna Epicentrum, Sudirman, Surabaya, namun secara umum kondisi yang lain jelek,buruk.

Nah kenapa di Surabaya bisa bikin trotoar bagus, karena bu Risma bisa menetapkan level pekerjaan di bawah kendali dia dengan level yang tinggi. Semoga kita juga bisa mengadjust dan menetapkan level kita pada posisi yang tinggi sehingga hasil pekerjaan yang kta deliver juga mempunyai kualitas di atas rata-rata.

Jayalah Indonesia

Image

Revolusi sandal

imageHari ini saya punya kesempatan sholat Jumatan di Makodam 3 Siliwangi. Ada hal menarik ketika saya datang ke Masjid Al Ikhlas di komplek ini. Sandal-sandal berjejer rapi . Hal ini jarang sekali saya lihat di tempat lainnya.

Ada pelajaran menarik dari pemandangan ini. Pertama, kadang untuk membuat perubahan hanya diperlukan hal yang sederhana. Dalam kasus ini membuat garis-garis shaf untuk sandal adalah contohnya. Untuk membuat garis itu pasti tidak butuh waktu lama dan biaya yang mahal. Tapi hasil yang didapatkan sangat efektif.

Pelajaran kedua adalah perlu ada contoh. Hal ini sebetulnya sesuai dengan naluri dasar manusia yang ingin mengikuti pola yang sudah ada.Pada saat saya datang melihat garis tadi, terus ada contoh sandal/sepatu yang diatur rapi dengan pola tertentu, saya langsung ingin merapikan sandal saya seperti sandal lain yang sudah ada di sana.

Faktor lain, selain garis dan contoh, mungkin juga ada pengaruh lokasi. Karena ini  ada di komplek militer, secara sadar saya ingin mengikuti persepsi bahwa militer itu disiplin dan rapi.

Oleh karena itu, untuk membuat perubahan perlu adanya tools/perangkat, sample dan perlu juga persepsi. Apabila hal ini bisa menular di seluruh masjid di Indoneisa pasti hal ini akan sangat dahsyat dampaknya. Apalagi kalau menular juga di cara kita berlalulintas, cara kita menghandle pekerjaan, dan lainnya pasti bangsa Indonesia akan lebih jaya dalam waktu yang lebih cepat lagi. Jayalah Indonesia…..

Positivisme

Dulu jaman SMP, Di rumah sempat beberapa tahun gak ada TV. Agak aneh memang. Tapi Bapak ganti dengan berlangganan koran jawapos, pernah juga suara merdeka. Feeling yang dulu saya dapat saat membaca jawa pos, sekarang kurang lebih muncul lagi. Hampir sama waktu membaca blog dahlaniskan. Rasa apa sih itu????

Dulu sepertinya pada saat membaca koran, begitu banyak progress pembangunan yang membuat hati ini melihat masa depan cerah terpampang. Yang paling saya ingat sih pembangunan graha pena… Walaupun ini memang gedungnya JP sendiri.

Sekarang ketika membaca blog dahlan, dengan segala inisiatifnya serta putra petirnya itu, seakan saya jadi ingat lagi perasaan yang dulu pernah ada. Optimis melihat Indonesia. Yaaaaa.

Mungkin pendapat saya tentang jawa pos dan dahlan iskan tidak seluruhnya benar menurut beberapa orang. Namun saya ingin fokus pada bagaimana sebuah media baik cetak maupun tv mampu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap rasa optimisme suatu bangsa.

Bad News is a Good News. Itu rumus dalam dunia jurnalistik yang memang ampuh. Tapi ketika apa yang saya tonton dari TVOne (sekedar contoh) hanya berita yang negatifffffff saja. Ini pasti juga membawa pengaruh buruk. Kalau bangsa ini disuguhi berita negatif pasti cara kita melihat masa depan juga tidak terlalu bagus.

Bagaimana kalau kita melihat bangsa ini dari perspektif yang positif. Memang ada plus minusnya juga. Tapi dengan segala minusnya saya pribadi adalah penganut aliran ini. Hitler sendiri sampai merasa perlu adanya menteri propaganda untuk dapat menggiring pikiran bangsanya.

Terakhir dan ini yang paling ampuh adalah “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu”. Sebuah hadis Qudsi

By maskuntop Posted in HIDUP

Kesederhanaan Pak Wamen Widjajono

Saya pertama bertemu dengan pak Wid saat acara pembukaan Saipem Yard di Pulau Karimun di dekat Batam pada desember 2011. Kesan yang pertama muncul adalah negatif (jujur nih) dari segi penampilan. Karena secara penampilan memang waktu itu pak Wid sama sekali tidak mencerminkan seorang Wakil Menteri. Beliau begitu sederhana baik tutur kata, sikap dan penampilan termasuk berpakaian. Bahkan terlalu sederhana sehingga tidak akan menyangka kalau beliau seorang Wamen. Saya juga seneng sederhana. Tapi kalau pak Wid waktu itu cenderung aneh kalau menurut saya.

Iseng saya cari di internet, ketemu tuh baju  yang dipakai pak Wamen waktu itu. Dannnn, ternyata sering sekali dalam beberap kesempatan beliau difoto menggunakan baju itu.

 

By maskuntop Posted in HIDUP

16 April 1999

Ada cerita lucu di hari itu. Teman SMA kembali mengingatkan kembali dalam comment facebooknya di wall saya.

Hari itu, saya masuk sekolah baru setelah jam kelas istirahat. Yahhh begitulah kelucuan jaman SMA. Apalagi sudan ngekos. Terus begitu sampai di kelas, teman-teman pada minta traktiran. Ya okelah. akhirnya kita, teman-teman yang cowok pada ikutan. minus Fauzi. Hahahahaha. Dia takut karena jam istirahat sudah hampir selesai.

Traktirannya apa? Mi Ayam Atang. Istimewa tuhhhhh.

Terus ternyata benar, kita selesai makan mie ayam setelah sekian menit dan kelas sudah masuk. Wahhh potensi bahaya nih. separoh kelas bisa dianggap memboikot pelajaran matematika bu Kawiyah. Begitu sudah hampir nyampe kelas semua baris dan saya di urutan paling depan.

Pintu kelas terkunci tanda bahaya tuh. Tok tok tok. Saya ketuk pintu. Dan begitu dibuka, wajah itu menujukkan tanda amarah. Wahhhhhhh..

Tapi ya begitulah cerita anak SMA.. Apalagi kelas 2 yang tidak jelas itu.