Menentukan Level Kita

Kita adalah apa yang kita pikirkan..
Ketika kita telah menetapkan bahwa kita adalah orang dengan komitmen waktu yang ketat, maka secara mudah maupun tidak kita akan memaksa diri kita sendiri untuk selalu tepat waktu. Ketika kita telah menetapkan diri kita adalah pribadi dengan komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, maka kita akan memaksa untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, plus memberikan bumbu nilai tambah sesekali.

Ini pula yang saya lihat di Singapura, Dubai, Abu Dhabi, Seoul, Houston, Tulsa, atau San Antonio. Seakan racikan dasar masyarakatnya telah diprogram agar dapat berada pada standar hidup yang tinggi. Kalau kita lihat trotoar, sebagai contoh, disana trotoar dibuat rapi dan nyaman. Di Indonesia mungkin juga bisa ditemui trotoar seperti itu, seperti di Rasuna Epicentrum, Sudirman, Surabaya, namun secara umum kondisi yang lain jelek,buruk.

Nah kenapa di Surabaya bisa bikin trotoar bagus, karena bu Risma bisa menetapkan level pekerjaan di bawah kendali dia dengan level yang tinggi. Semoga kita juga bisa mengadjust dan menetapkan level kita pada posisi yang tinggi sehingga hasil pekerjaan yang kta deliver juga mempunyai kualitas di atas rata-rata.

Jayalah Indonesia

Advertisements

Jembatan Penyeberangan Parah

Sore ini punya cerita menarik abis meeting di Perindustrian. Biar cepet ke kantor, daripada lama muter di Pancoran akhirnya jalan lewat jembatan penyeberangan aja supaya langsung. Ehhh ternyata eh ternyata. Yang namanya jembatan penyeberangan ini betul-betul tidak bersahabat. Gimanaa kalau istriku lewat sini. Takut setengah mati dia.
Ilustrasinya seperti ini. Jembatan penyeberangannya sepi. Jalan 10 Meter di depanku cewek. Terus di tengah jembatan ada orang gila. Gimana gak ketakutan istriku kao lewat sini. Terus kondisinya kotor cenderung kumuh.. Hahahahaha. Parah.
Bukankah seharusnya jembatan di Ibukotaku ini bisa dibangun lebih nyaman ya. Coba dibangun di bawah tanah, trus ada security n cctv. Ada kios orang jualan sehingga bisa disewakan juga. Secara estetikan jembatan penyeberanganpun jadi tidak merusak indahnya Jakarta.

Sekedar perbandingan kalo di Jakarta Kota kan ada penyeberangan bawah tanah. Sebetulnya sudah lumayan juga. Tapiiiiiii, perawatan kurang mantap. Tapi seharusnya, menurutku nih, Jakarta harus bangun lebih banyak lagi dengan perawatan yang cukup memadai. Di Semanggi, Pancoran, Mampang, Kuningan, Banyak deh pokoknya.

Kalau bisa sih kayak di Singapura (Ayo bisaaaaaa). Bahkan lebih bagus lagi. Kayak yang di dekat esplanade. Jadi ada eskalatornya sekalian. Mantappppp. Tapi kalo ada gubernur yang bisa bikin itu pasti tambah dicintai sama warganya. Dan sebetulnya tidak susah kan bikin itu. Tidak perlu gusur tanah yang bikin mumet urusane.

Dan sebetulnya sumber pemasukan juga kan. Bisa dijadikan tempat-tempat penjualan, kios-kios koran, pulsa atau apalah. Apalagi yang trafficnya padat. Tapi ya itu tadi butuh perawatan n sekuriti. Ahhh sekali lagi mimpi itu indah. Tapi berjuang mewujudkannya pasti lebih indah.

Ganti Bis Kota Jakarta

Setiap hari harus melihat tingkah bis kota, satu pertanyaan yang muncul, Kenapa bis kota ini masih tetap diijinkan jalan di Jakarta. Tingkah gila, polusi parah, belum lagi bentuknya yang seharusnya dilenyapkan.

 

 

Rumah di Jakarta

Setiap pulang aku pasti melewati jalan ini. Jalan di kawasan komplek ligamas. Dikanan-kiri jalan ini berderet rumah-rumah yang selalu menarik mata untuk melihat.
Selalu muncul pikiran kapan aku punya rumah ini. Kalo dah punya uang banyak aku mau beli salah satu rumah di sana. Gayane sih….hehe. tapi berapa duit???
Abis tempat disitu nyaman banget. Tengah kota, Air gampang, Gak banjir, wah pokoke enak deh rumah di situ

Taman Puring

Kebiasaan ke Taman Puring sama Anas, Hendri n Si BOS.
Gak ada kerjaan, keliling-keliling, gak jelas, ngabisin duit yang emang dah mau abis.
Ngobrol ma pedagang. nawar barang sembarangan, beli kaos murah tapi gak murahan lo